Selasa, 15 Oktober 2019

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II PERCOBAAN 6 “ SKRINNING FITOKIMIA SENYAWA BAHAN ALAM”



JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN  6
“ SKRINNING FITOKIMIA SENYAWA BAHAN ALAM”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigWYCYfADDMT9twKednF_SDNEVTSlasJJS9gCuEkhpKMCyW5PU9lS5l-sBt0lrBRc5m7k02zCu0HpTctpfJsY92iFbmUxiNgqTd0ztM9qaqktAgrJTT-FDph3nzFhX1LqM8FOI5P3uqmx3/s200/LAMBANG-UNJA-EMBOSE-baru-copy.png


DISUSUN OLEH :
WULAN SARI BAKARA
(RSA1C117008)


DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL , M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019


PERCOBAAN 6

I. Judul                  : Skrinning Fitokimia Senyawa Bahan Alam
II. Hari/Tanggal   : Rabu/16 Oktober 2019
III. Tujuan            : Adapun tujuan dari percobaan kali ini adalah :
1.    Dapat mengenal dan memahami teknik-teknik skrinning fitokimia bahan alam.
2.    Dapat mengetahui jenis-jenis pereaksi yang digunakan dalam skrinning fitokimia bahan alam.
3.    Dapat melakukan skrinning fitokimia bahan alam dari suatu simplisia tumbuhan.
IV. Landasan Teori
Kandungan kimia yang terdapat dalam makhluk hidup berdasarkan pada cara terbentuk dan fungsinya dapat dikelompokkan atas 2 kelompok besar, yaitu: 1) metabolit primer yang merupakan senyawa organik yang terlibat dalam proses metabolisme makhluk hidup tersebut seperti karbohidrat, lipid, protein, dan asam-asam amino. 2) metabolit sekunder yang merupakan hasil samping proses metabolisme alkanioda, steroida, flafonoida, fenolik, kumarin, koinon, saponin, tannin, lignan, dan glikosida, yang dikenal juga sebagai kimia bahan alam (natural product chemistry)
  Menurut Farnsworth (1996), skrinning adalah suatu pemeriksaan kimia secara kualitatif terhadap senyawa-senyawa aktif biologis (metabolit sekunder/bahan alam) yang terdapat dalam simplisia tumbuhan atau makhluk hidup lainnya. Karena pada umumnya yang merupakan senyawa aktif tersebut adalah senyawa-senyawa organic, maka pemeriksaan skrinning fotokimia terutama ditujukan terhadap golongan senyawa-senyawa organik seperti : alkaloid, steroid/terpenoid, flavonoid, fenolik, kumarin, kuinon, saponin, tannin, lignin, glikosida, dan sebagainya. Kandungan senyawa kimia yang terdapat pada makhluk hidup berdasarkan cara terbentuk dan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1.    Metabolit primer, merupakan senyawa organic yang terlibat dalam proses metabolisme dalam makhluk hidup seperti karbohidrat, lipid, protein, dan asam amino.
2.    Metabolit sekunder, merupakan hasil samping proses metabolisme seperti alkaloida, steroida/terpenoida, flavonoida, fenolik, kumarin, kuinon, saponin, tanin, lignin, dan glikosida yang dikenal sebagai kimia bahan alam.
Pereaksi yang digunakan dalam skrinning fotokimia guna mengidentifikasi terhadap masing-masing jenis metabolit sekunder tersebut dilakukan dengan menggunakan larutan-larutan pereaksi untuk alkaloida yaitu pereaksi wagner, pereaksi meyer dan dragendorf. Untuk jenis steroid dan terpenoid dapat digunakan pereaksi Liebermann Buchard, sedangkan untuk identifikasi flavonoid dapat digunakan pereaksi shinoda dan larutan NaOH 10% (Tim Kimia Organik II, 2015). 
Skrinning fitokimia ialah  tahap awal dalam satu penelitian fitokimia yang bertujuan untukmemberikan gambaran tentang golongan senyawa yang biasanya dalam tanaman yang sedang diteliti. Metode krinning fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna. Hal penting dalam skrinning fitokiia yaitu pemilihan pelarut dan metode ekstraksi (Kristianti,2006).

                  Selain flavonoid, ada juga senyawa yang termasuk kedalam metabolit sekunder yakni kuinon dan tanin. Kuinon merupakan senyawa berwarna yang mempunyai kromofor dasar seperti kromor pada benzokuinon yang terdiri dari 2 gugus karbonil yang berkonjugasi dengan2 ikatan rangkap karbon-karbon. Untuk tujuan identifikasi, kuinon dapat diubah menjadi 4 kelompok yaitu benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon, dan kuinon isoprenoid. Sedangkan tani adalah senyawa yang memiliki gugus hidroksi fenolik yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Terdapat pada daun, buah dan batang. Tanin merupakan senyawa yang tidak dapat dikristalkan dan membentuk senyawa tidak larut yang berwarna biru gelap atau hitam kehijauan dengan logam besi. Tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer yang tidak larut dalam air (Gunawan, 2004)


V.        ALAT DAN BAHAN
5.1  Alat
a.    Tabung reaksi 20 buah
b.   Plat tetes
c.    Pipet tetes
d.   Corong gelas
e.    Erlenmeyer 250 ml
f.    Gelas kimia 200ml
g.   Lumping
h.   Gelas ukur

5.2  Bahan
a.    Pereaksi Dragendrof
b.   Kloroform
c.       NaOH padat
d.   Pereaksi Meyer
e.    Etanol
f.    Iodine
g.   Pereaksi Wagner
h.   Methanol
i.     Brusin
j.     Shinoda
k.   Heksan
l.     Kalium Iodida (KI)

VI.     PROSEDUR KERJA
5.1        Pemeriksaan Alkaloida
a. Dihaluskan sebanyak 2-4 gr simplisia tumbuhan pada lumping dengan menambahkan sedikit kloroform dan pasir bersih (silica),
b.Setelah bahan tumbuhan tersebut halus, basahi dibasahi dengan 10 ml kloroform, digerus lagi kemudian ditambahkan 10ml kloroform amoniak 1/20 N dan digerus lagi.
c. Disaring ketabung reaksi dan ditambahkan 10 tetes larutan asam sulfat 2N.
d. Dikocok, lapisan didekantasi dan dipindahkan kedalam 3 tabung reaksi kecil dan masing-masing tabung ditambahkan satu tetes  pereaksi Meyer, Wagner, DragendroF.
e.  Bila mengandung ada alkaloid, akan terbentuk endapan dimana tipe endapan yang akan terbentuk sangat tergantung pada jumlah alkoid yang ada dalam simplisia contoh. Sebagai pembanding hasil pengujian, maka digunakan larutan alkoid (Brusin) dalam HCL 2N
-          Brusin 0,010%  : Alkaloid (+)
-          Brusin 0,025%  : Alkaloid  (++)
-          Brusin 0,050%  : Alkaloid (+++)
-          Brusin 0,10%    : Alkaloid (++++)
5.2         Pemeriksaan Steroid dan Terpenoid
a. Dimasukkan simpli sia tumbuhan 5 gram kering yang telah dirancang halus ke dalam erlin meyer 250ml, ditambahkan 25 ML etanol dan sambil diaduk kemudian dipanaskan di atas penangas air
b.Setelah dipanaskan lebih kurang 10 menit disaring dalam keadaan panas.
c. Diuapkan Filtrat pelarutnya dengan rotary evaporator atau dengan menggunakan penangas air sehingga diperoleh ekstrak  pekat etanol.
d. Dititrasi ekstrak etanol dengan sedikit eter dan beberapa tetes larutan eter ini ditempatkan dalam 2 lubang plat tetes dan dibiarkan kering.
e. Ditambahkan 2-3 tetes anhidrida asam asetat diaduk dengan hati-hati.
f. Ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat dan amati perubahan warna yang terbentuk.  timbulnya warna merah atau merah Ungu yang tidak stabil kemungkinan dikarenakan karena adanya triterpenoid,  sedangkan warna hijau karena adanya steroida.
g.Reaksi harus dicek dan dengan menambahkan hanya asam sulfat pekat pada lubang plat tetes yang satu lagi amati warna yang terjadi. Kalau terbentuk warna yang sama sangat boleh jadi contoh tumbuhan yang diperiksa tidak mengandung terpenoid ada tapi senyawa lain yang bereaksi dengan asam sulfat pekat
5.3        Pemeriksaan Flavonoida
a.    Diekstraksi sebanyak 0,5 gram simplisia tumbuhan yang telah dihaluskan dengan 10 ml etanol panas selama 5 menit dalam tabung reaksi.
b.  Disaring hasil ekstraknya dan filtratnya ditambahkan beberapa tetes HCl pekat lalu ditambahkan lebih kurang 0,2 gram bubuk magnesium bila timbul warna merah tua menandakan contoh mengandung flavonoid cara uji teknik Shinoda (Mg+HCL).
c.   Cara lain pengujian flavonoid dengan menambahkan ekstrak etanol di atas dengan 2 tetes NaOH 10% adanya flavonoid ditandai dengan perubahan warna kuning orange merah sebagai pembanding untuk ukuran flavonoid dalam contoh tumbuhan digunakan sebutir α- kotekin yang dianggap(++) atau lagundi (+++) untuk  jumlah kandungan flavonoid dalam simplisia.
5.4  Pemeriksaan Saponin
a.    Dimasukkan lebih kurang 0,5 gram bahan tumbuhan ke dalam tabung reaksi yang telah diperiksa ditambahkan 10 ml air panas dan dibiarkan menjadi dingin kemudian  dikocok selama 10 detik.
b.      Apabila pada perilaku and ini terbentuk busa yang stabil setinggi 1 sampai 10 cm selama 10 menit dan tidak hilang pada penambahan 1 tetes asam klorida 2 N berarti tes saponin adalah positif.
c.    Digunakan tumbuhan lidah buaya sebagai pembanding kadar saponin dalam contoh dengan korelasi Ukuran tinggi busa relatif terhadap kadar saponin sebagai berikut : lebih tinggi 4 cm (++++), 3-4cm (++++), 2-3 cm (++) dan dibawah 1 cm (+).
5.5  Pemeriksaan Kuinon
a.       Dipotong-potong halus simplisia tumbuhan kemudian diekstraksi dengan eter.
b.      Kalau warna contoh yang diuji masuk ke dalam pelarut eter boleh jadi zat warna yang ada adalah kuinon.

5.6   Pemeriksaan Kumarin
            Ekstrak metanol dan ekstrak etanol dari simplisia tumbuhan dapat di deteksi keberadaan kumarin nya dengan cara ekstrak etanol atau metanol dari contoh di kromatografi lapis tipis dengan menggunakan eluen etil asetat atau etil asetat : methanol (9:1), atau( 8:2).  dibawah sinar ultraviolet gelombang panjang 360 nanometer kumarin biasanya akan berlalu resensi biru dan kalau noda ini diberi uap amonium terlihat noda yang berwarna kuning
Adapun video terkait percobaan ini adalah: https://youtu.be/GSHez85LKeo
PERMASALAHAN
1. Mengapa dalam melakukan skrinning fitokimia bahan alam menggunakan suatu simplisia suatu  tumbuhan ,apa kandungan dan pengaruh dari penggunaan simplisian tersebut ?
 2.     Pada saat dilakukannya pemeriksaan steroid dan terperoid apa fungsi penambahan asam sulfat tersebut?dan  mengapa asam sulfat pekat digunakan untuk menguji pemeriksaan tersebut ?
3. Mengapa dalam pemeriksaan saponin digunakan tumbuhan lidah buaya sebagai pembanding? Mengapa menggunakan lidah buaya dan apa pengaruh nya terhadap pemeriksaan in?

Kamis, 03 Oktober 2019

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II PERCOBAAN 4 “PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ESTER METIL SALISILAT” (MINYAK GANDAPURA)

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II  PERCOBAAN 4
         “PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ESTER METIL SALISILAT”
         (MINYAK GANDAPURA)

   


                            DISUSUN OLEH :
                   WULAN SARI BAKARA
                         (RSA1C117008)



                          DOSEN PENGAMPU :
                  Dr. Drs. SYAMSURIZAL , M.Si




      PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN               ILMU PENGETAHUAN ALAM
         FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU  PENDIDIKAN
                  UNIVERSITAS JAMBI
                      2019




                          PERCOBAAN 4

I. Judul       : Pembuatan Senyawa Organik                          Ester Metil Salisilat (Minyak                              Gandapura)
II. Hari/Tanggal : Rabu/ 02 Oktober 2019
III. Tujuan           : Adapun tujuan dari  percobaan kali ini adalah:                   
 1. Dapat memahami cara  pembuatan minyak gandapura secara sintetis dari asam  salisilat dan methanol.
 2. Dapat mengetahui bahwa minyak gandapura merupakan ester karboksilat.
 3. Dapat menentukan sifat fisik dan kimia dari minyak gandapura.
 4. Dapat mengetahi jenis reaksi sintesis pembuatan minyak  gandapura.

IV. LANDASAN TEORI
Minyak gandapura merupakan sejenis obat gosok yang dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sakit local seperti nyeri otot yang efektif dan tidak mempunyai efek samping yang serius pada kulit. Pada pembuatan minyak gandapura ini terjadi proses esterifikasi yaitu reaksi antara asam karboksilat dengan alcohol yang menghasilkan ester dan juga air. Jika reaksi yang berlangsung pada suhu tinggi dengan memakai refluks atau pendingin balik dan katalisator seperti asam kuat, maka reaksi itu akan dipercepat dan juga kesetimbangan tentunya lebih mudah untuk dicapai (Asas Le Chathelier). Pada percobaan ini juga menggunakan bahan metil salisilat yaitu merupakan ester dari suatu asam karboksilat. Metil salisilat ini dapat diperoleh dengan cara mereaksikan asam salisilat dengan alkohol. Sebenarnya, metil salisilat ini awalnya diperoleh secara alami dengan cara mengisolasinya dari tumbuhan gandapura (Gauliheri Procumbens). Metil salisilat ini juga sering dikenal dengan minyak dari winter green (Tim Kimia Organik II, 2015).

Etil salisilat termasuk senyawa ester yang dapat dibuat dengan cara mensintesis dengan jalan mereaksikan suatu seyawa asam karboksilat dengan alkohol dalam suasana asam. Proses esterifikasi dikenal dengan nama esterifikasi Fisenar. Dari proses yang terjadi tersebut maka diperoleh hasil sampingan yaitu H2O dan untuk mengetahui H2O tersebut telah digunakan, metode yang dikenal sebagai labelling isotop, ternyata air yang terbentuk bukan berasal dari asam, namun berasal dari gugus –OH milik asam (Underwood,1997).

Reaksi esterifikasi merupakan reaksi asam karboksilat dengan alcohol yang menghasilkan ester dan air. Maka dari itu prinsip reaksi pembuatan metil salisilat adalah esterifikasi reaksi antara asam salisilat dan methanol, dimana dikatalis asam dan bersifat dapat balik. Etsre asam karboksilat adalah senyawa yang mengandung gugus –CO2 R dengan R berupa alkil maupun aril (Fessenden,1981)

Minyak gandapura diperoleh melalui proses penyaringan dari daun gagang tanaman gandapura minyak gandapura dalam perdangan internasional dikenal dengan istilah winter green oil. Komponen utama minyak gandapura adalah senyawa metal salisilat yang banyak digunakan dalam industry obat-obatan, bahan pewangi serta makanan dan minuman. Kandungan metal salisilat dalam minyak gandapura mencapai 93-98%. Metil salisilat merupakan turunan dari asam salisilat yang berwarna kuning dengan bau menyengat seperti salep. Sifatnya tidak larut dalam air tetapi larut dalam alcohol dan ester. Metil salisilat merupakan senyawa ester yang sering digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat salep yang dapat mengobati sakit otot. Metil salisilat sudah banyak dikembangkan menjadi senyawa lain, misalnya asam asetil salisilat (aspirin). Turunan metal salisilat selain asam asetil salisilat juga dapat diubah menjadi salisilanilida (Sulistyo. 2015).

V. Alat dan Bahan
     5.1 Alat
          - Labu dasar bulat 500ml
          - Labu destilasi 100ml
          - Termometer
          - Pendingin (liebig)
          - Corong Pisah
          - Pipa Bengkok
          - Erlenmeyer 200ml
    5.2 Bahan
          - 28 gr Asam Salisilat
          - 81 ml Methanol
          - Natrium Bikarbonat
          - 8 ml Asam Sulfat Pekat
          - Magnesium Sulfat Anhidrat

VI. Prosedur Kerja
       Adapun langkah kerja dari percobaan kali ini adalah:

1.Dalam labu dasar bulat 500ml, masukkan 28 gr asam salisilat, 81 methanol, dan 8ml asam sulfat pekat, lalu dikocok.
2.Lengkapi labu dengan pendingin air, lalu refluks selama 1,5 jam dan biarkan campuran menjadi dingin.
3.Rubah posisi pendingin tegak menjadi miring untuk mendestilasi sisa methanol dengan memanaskan diatas penangas air.
4.Jika methanol habis terdestilasi, biarkan campuran larutan tersebut dingin.
5.Campuran larutan dari labu dituangkan kedalam corong pisah, lalu dicampur dengan 250ml aquades.
6.Kocok kuat-kuat larutan tersebut hingga terbentuk dua lapisan zat cair.
7.Alirkan lapisan ester (lapisan bawah) kedalam erlenmeyer.
8.Tambahkan larutan jenuh dari NaHCO3 sampai bebas asam, lalu ditambahkan kembali dengan anhidrida magnesium sulfat untuk mengeringkan ester salisilat selama 30 menit.
9.Saring dan filtrat yang terbentuk ditampung kedalam labu destilasi, kemudian destilasi diatas penangas air.
10.Catat temperatur pada waktu destilat ditampung.
11.Bila temperatur masih jauh dibawah titik didih metil salisilat 115˚C, maka murnikan kembali pada metil salisilat yang ditampung dengan mendestilasi kembali.


Adapun video terkait dengan percobaan ini adalah: https://youtu.be/Nu2Excsv4zE

Permasalahan :
1.Mengapa pada percobaan ini digunakan asam sulfat pekat sebagai katalisator?
2.Mengapa pada suhu tinggi reaksi asam dengan alcohol akan mudah dicapai kesetimbangannya dan reaksi dapat dipercepat ?
3 Mengapa pada percobaan kali ini natrium bisulfit harus ditambahkan sebelum diproses lebih lanjut pada larutan benzil alkohol di dalam eter?

Sabtu, 21 September 2019

LAPORAN AKHIR PERCOBAAN “ PEMBUATAN ASAM ASETIL SALISILAT (ASPIRIN)”


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II
PERCOBAAN  3
“ PEMBUATAN ASAM ASETIL SALISILAT (ASPIRIN)”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVvC2yAEtwcPP8pUfQnhBDVawQAPIJ_9YwIu0qJCS13zSrY6EwFI09eRh9WClSIOjPrj7MDwk4qhGyKrnTxs6hZouBQqeCykQcur1pDJFvhBnCzWKfQpr18uodfknpsxe8yRo0Teg67BlQ/s200/LAMBANG-UNJA-EMBOSE-baru-copy.png



DISUSUN OLEH :
WULAN SARI BAKARA
(RSA1C117008)



DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. SYAMSURIZAL , M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019





VII. Data Pengamatan
Perlakuan
Hasil Pengamatan
Dimasukkan asam salisilat dan asam asetat, kemudian ditetesi H2SO4 pekat pada labu erlenmeyer, dan diaduk sambil dipanaskan pada penangas air dengan suhu 50-60C selama 15menit


Larutan berwarna bening
Didinginkan dan ditambah 50ml air sambil diaduk kemudian saring kristal yang sudah terbentuk

Terbentuk kristal putih
Di rekristalisasi: dimasukkan kristal yang terbentuk kedalam labu erlenmeyer dan ditambahkan 5ml etanol-air 50% dan dipanaskan kembali


Kristal melarut
Disaring larutan dalam keadaan panas menggunakan kertas saring, dan dinginkan dalam es batu

Terbentuk kristal
Dibiarkan kristal mengering
Terbentuk kristal bening tajam seperti jarum
Ditimbang produk yang sudah kering
Terbentuk kristal 0,02 gr


























VIII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini yaitu berjudul pembuatan asam asetil salisilat atau aspirin. Praktikum ini dilakukan dengan tujuan dapat memahami cara pembuatan asam asetil salisilat dari bahan baku asam salisilat dan asetat anhidrat, serta untuk dapat mengetahui dan memahami jenis reaksi pembuatan asam asetil salisilat. Aspirin atau asam asetil salisilat merupakan senyawa turunan asam salisilat. Aspirin ini mempunyai sifat antipiretik dan juga analgesik Kenapa begitu karena merupakan kelompok senyawa glikosida. Aspirin merupakan salisilat ester yang dapat dibuat dengan menggunakan asam asetat yaitu yang memiliki gugus COOH dan asam salisila yangt memiliki gugus OH.
Aspirin dalam percobaan ini dibuat yaitu dengan mencampurkan 2,5 gram asam salisilat kering, 4 ml anhidrida asam asetat dan juga 2 tetes H2SO4 pekat. Asam salisilat pada sintesis aspirin ini berfungsi sebagai alkohol yang reaksinya akan berlangsung pada gugus hidroksi. Pada saat asam salisilat dan asam asetat yang kemudian ditetesi H2SO4  dicampur kan dan dipanaskan selama 15 menit, mendapatkan hasil larutan yang berwarna bening. Penambahan asam sulfat pekat pada larutan yaitu H2SO4 berfungsi sebagai katalisator sehingga asam sulfat tersebut berfungsi untuk mempercepat terjadinya sintesis dengan cara menurunkan energi aktivasi sehingga Energi yang diperlukan dalam sintesis sedikit jadi reaksinya akan berjalan lebih cepat. Kemudian pada larutan yang berwarna kuning tadi didinginkan dengan menambahkankan 50 ml air kemudian akan terbentuk kristal yang berwarna putih. Proses pemanasan pada bahan yang tadi itu dapat mempercepat gerak dari molekul dalam larutan sehingga akan dapat mempercepat terjadinya laju reaksi. Kristal yang telah mengalami proses pemanasan tersebut didinginkan kembali Kemudian ditambahkan dengan air dan kristal yang sebelumnya kembali akan menjadi larutan.
Penambahan air pada kristal tersebut dilakukan yaitu agar tujuannya reaksi pembentukan kristal tersebut dapat berjalan sempurna dan dimaksudkan untuk dapat menghidrolisis kelebihan asam yang terdapat pada kristal aspirin tersebut.  kemudian larutan didinginkan kembali dengan es batu Agar dapat mencapai proses rekristalisasi dengan sempurna. Rekristalisasi tersebut dilakukan dengan cara menambahkan 5 ml etanol-air dengan konsentrasi 50% dan dilakukan pemanasan kembali. Setelah kristal melarut dalam pemanasan tersebut kemudian disaring larutan secara panas dengan menggunakan kertas saring dan corong, hal ini dilakukan karena masih terdapat sedikit kandungan air pada kristal tersebut. Setelah disaring kemudian didinginkan ke dalam es batu, setelah didiamkan di dalam es batu larutan tersebut akan berubah menjadi Kristal kembali, kristal yang terbentuk adalah kristal putih bening seperti jarum yang tajam. Sehingga dalam percobaan ini didapatkan kristal sebanyak 0,02 gram.

Video terkait praktikum: https://drive.google.com/file/d/119gxw6-eB9ng1w5aZ8OA9y0Q_G-IZi38/view?usp=drivesdk

IX. Pertanyaan Pasca
  1. Mengapa pada pembuatan asam asetil salisilat ini perlu ditambahkan dengan H2SO4 pekat ?
  2. Apa fungsi penambahan asam sulfat pekat pada praktikum ini ?
  3. Mengapa harus dilakukan proses rekristalisasi pada percobaan ini ? Apakah jika tidak dilakukan rekristalisasi produk yang dihasilkan tidak akan sempurna?


X. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapatkan dalam percobaan ini adalah :
  1. Aspirin merupakan salisilat ester yang dapat dibuat dengan menggunakan asam asetat yaitu yang memiliki gugus COOH dan asam salisila yangt memiliki gugus OH.
  2. Penambahan asam sulfat pekat pada pembuatan aspirin ini berfungsi sebagai katalisator sehingga asam sulfat tersebut berfungsi untuk mempercepat terjadinya reaksi.
  3. Aspirin bersifat analgesik yang efektif sebagai penawar rasa nyeri, selain itu juga merupakan zat anti-inflamasi untuk mengurangi rasa sakit pada cidera ringan.

XI. Daftar Pustaka
Austin, George. 1984. Shereve's Chemical Process Industries. McGra-Hill Book Co: Singapura.
Baysinger, Grace. 2004. CRC Handbook Of Chemistry and Physics. Hill Book Co: Singapura.
Fessenden, Ralph J. 1982. Kimia Organik Edisi ke 3 Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Irwandi, Dedi. 2014. Experiment Of Organic Chemistry. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Tim Kimia Organik. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi: Universitas                                     Jambi.









XII. Lampiran


Penambahan asam salisilat, asam asetat, serta H2SO4 pekat dalam erlenmeyer
Dilakukan Pemanasan

Dilakukan Penyaringan terhadap larutan yang telah
dipanaskan tadi menggunakan kertas saring

Filtrat yang telah disaring dimasukkan kedalam air dingin/air es
dengan tujuan mendapatkan kristal

Kristal yang didapatkan berwarna putih bening tajam